Kala cinta, percayalah pada rindu

Entah kapan tepatnya mulai jatuh cinta, namun tak akan lupa kapan saya mulai mengangguminya. Siang menjelang sore sepulang dari kampus, kulihat ia berjalan dari kampus ke arah rumahnya. Namun jalur itu tak biasa, jalur itu bukan jalur angkutan umum. Jalur itu adalah jalur terdekat jika ia hendak jalan kaki ke rumahnya yang cukup jauh dari kampus (Depok-Limo). Sejurus kemudian saya mengetahui bahwa ternyata ia “kehabisan ongkos” karena semua uangnya telah ia berikan ke seseorang yang ia temui di jalan & “mengaku” tidak punya uang.

Kebanyakan orang biasanya tidak percaya jika ada orang asing di jalan meminta uang karena alasan “kehabisan ongkos/tidak punya uang”, apalagi untuk memberikan semua uang yang ia miliki (karena biasanya penipu). Tapi ketika ku konfrontasikan padanya ia dengan santai menjawab: “Bagaimana kalau ia beneran ndak punya uang?, betapa sedihnya ia jika ia benar² membutuhkan tapi tidak ada orang yang percaya“. Mendengar kata² itu, saya bahkan urung untuk menanyakan kenapa ndak kasih sebagian saja uang yang ia miliki. Namun, itulah salah satu “kesempatan” saya untuk pulang bareng bersamanya dari kampus … :)

Kejadian itu bukanlah yang pertama kali. Suatu ketika ia kehilangan tas di Mushala fakultas. Kebetulan Om-nya adalah seorang polisi yang bisa membantunya melacak pelakunya. Yang ternyata adalah anak SMP (wanita) yang hidup dalam kesulitan ekonomi. Bukannya marah/emosi, ia memilih untuk tidak menuntut sang gadis, namun malah membiayai sekolah anak itu. Semua kebaikan itu ia lakukan padahal ia harus bekerja sambil kuliah tidak hanya untuk mencukupi kebutuhannya sendiri, tapi juga keluarganya yang cukup banyak (Ayahnya telah tiada). Kejadian seperti itu bukan 2-3 kali terjadi, ia selalu menempatkan dirinya setelah orang lain.

Saat sudah bekerja-pun ia masih memiliki sifat itu. Setiap ia mendapat uang lebih misal karena mengajar di luar kampus atau menjadi konsultan. Tidak jarang di tengah jalan ia berhenti untuk memberi sejumlah besar penghasilan tambahannya itu ke anak terlantar/pengemis di jalan. Sebagian lagi ia akan berikan ke keluarga / saudara terdekat. Jarang sekali (bahkan saya tak pernah ingat) ia membeli tas/pakaian/sepatu mahal dari hasil kerja kerasnya.

Ia lebih memilih “merayakan” penghasilan tambahannya dengan naik motor butut saya & makan di kaki lima. Senang sekali rasanya melihat wajahnya yang begitu bersemangat menceritakan pengalamannya saat ia mengajar. Pantas saja ia sering menjadi dosen/pengajar favorit, mengajar adalah passion-nya. Ia juga tak pernah mengurangi/menambahkan ketika menceritakan sesuatu. Itulah mengapa saya lebih mempercayainya, ketimbang “gosip/fitnah” dari seribu orang sekalipun.

Cerdas & baik hati …. kurang lebih saya jatuh cinta karena itu. Dan karena itulah saya selalu berdoa agar anak-anak kita memiliki kebaikan hati & kecerdasan Bundanya.

BunBun … Happy anniversary … 14 tahun sudah kita arungi hidup bersama. Walau tidak selamanya dihiasi canda & tawa, namun ku bahagia. Walau kadang ada badai menerpa, Alhamdulillah kita bisa melaluinya. Seandainya nanti badai itu kembali menerpa … semoga kita tetap terus percaya pada cinta … dan kala ia tak kasat oleh mata … percaya saja pada rindu di dada … karena ia takkan pernah berdusta.

Love You Sarini,

</Ayah>

Leave a Reply