Kemerdekaan, Pahlawan, Pengorbanan, & Masa Depan

Perayaan hari Pahlawan,… sebenarnya apakah yang kita rayakan? bersenang-senang karena kita telah terbebas dari penjajahan Belanda/Jepang? hhmmm… dahulu rakyat Indonesia disuruh kerja paksa [Rodi/Romusha]. Tapi saat ini, buruh² pabrik kita juga banyak yang kerja >12jam sehari, berdiri, dan dengan gaji yang super sangat minim sekali buangetzzz. Banyak juga yang kelaparan dan bahkan sampai mati kelaparan di berbagai daerah² pelosok tanah air. So ?… berarti sebenarnya yang terjadi saat ini hanyalah perubahan bentuk penjajahan, atau penjajahan dalam bentuk baru.

Lah,… terus mengapa sampai semua ini terjadi ? … well, kalau mau menyalahkan orang lain seperti pejabat atau semacamnya, itu sih biasa dan mudah untuk dilakukan. Hal itu juga tidak membuat permasalahannya menjadi terpecahkan, berkurangpun tidak [malah manas-manasin doang]. Tapi mari kita analisa mulai dari cakupan yang bisa kita jangkau.

Saya sempat iseng menanyakan cita-cita beberapa anak muda Jepang di Sendai [propinsi di utara dekat Hokkaido], kebanyakan mereka kemudian berkata: “menjadi ahli ekonomi no 1 di Jepang”, …”menjadikan Jepang no 1, di bidang Bioteknologi”, dsb … saat mendengar itu semua saya agak tersenyum sedikit meledek, karena kalau ada orang ngomong kayak gitu di Indonesia, kemungkinan besar akan diledekin. Ternyata mereka tersinggung dengan senyuman kecil saya!!!… ternyata mereka serius dan sungguh-sungguh akan ikrarnya itu. Subhanallah, saya terkejut, karena saat ini di negeri kita, bahkan anak kecil sekalipun jika di tanya cita-citanya maka mereka akan menjawab dengan sebuah cita-cita individualis materialistis seperti “pengusaha”, “manajer”, “direktur”, “presiden”, dll… sudah sangat jarang anak-anak kita menjawab…. “Membangun Bangsa Indonesia, menjadikan Indonesia No.1 di Bidang Matematika”,.. dsb.

Ada satu hal yang kadang kita lupa, jika saat ini kita menikmati ketenangan/kesenangan itu semua karena pengorbanan para pahlawan dulu. Mereka mengorbankan kesenangan, darah, harta, bahkan nyawanya agar kita dapat hidup senang seperti sekarang ini. La… yang kita lupa adalah agar generasi kita di masa depan, anak-anak kita dapat hidup senang, maka sekarang giliran kitalah untuk berkorban. Jangan sekarang kita enak-enakkan dan melupakan nasib anak-cucu kita.

Saya sering melihat waktu di Ausie, bagaimana etos kerja di sana sangat baik. Mereka bekerja dalam unit-unitnya masing-masing secara profesional yang kelak akan mengakibatkan Ausie secara umum menjadi lebih baik. Hhmm…. alasan paling klise jika hal seperti ini diutarakan di Indonesia adalah,…”well di negara maju kan kesejahteraannya dah ok,..kita kan…bla bla bla…”. Awalnya saya mengerti akan jawaban seperti ini, sampai saat saya mengetahui bahwa bahkan >5000 orang PEKERJA di Tokyo homeless!!!… artinya gaji mereka tidak cukup bahkan untuk ngontrak!!!… mereka biasanya tinggal di taman-taman or warnet-warnet. Padahal pas jam kerja, etos kerja mereka luar biasa, jarang sekali yang telat, dan hampir ga pernah pulang pas banget jam kantor selesai [Teng-Go]. Mereka biasanya overtime tanpa cerewet masalah uang lembur.

Kebanyakan pekerja di Indonesia hanya memikirkan jabatan, jabatan, dan jabatan. Mereka suka jabatan, karena mereka pikir bisa dapat uang banyak dan kehormatan semu tanpa harus kerja keras [Tipikal sekali]. Saya sempat kaget waktu kemarin di Bali ngobrol-ngobrol dengan orang dari universitas lain pas makan malam di kedai pinggir jalan; beliau mempermasalahkan umur seseorang dalam pekerjaan. Menurut beliau orang yang muda tidak layak untuk menduduki atau mendapatkan posisi atau hal tertentu dalam pekerjaan. hhmm… saya jadi ingat suatu kisah di Amerika [di sebuah perusahaan: dalam salah satu buku favorit saya “manajemen 1 menit”] dimana suatu ketika seorang pegawai yang telah bekerja 15 tahun tiba-tiba posisinya dilewati oleh pegawai baru yang baru bekerja 3 tahun. Sang pekerja senior kemudian protes kepada bossnya, kemudian dengan tenangnya si Boss menjawab “Pengalaman yang kamu dapat bukan 15 tahun, tapi satu tahun yang diulang 15x!!!“.

Saya ingin mengungkapkan bagaimana PEMUDA memegang peranan penting untuk masa depan, kalianlah harapan bangsa. Penuhi hati dan fikiran kalian dengan ambisi dan cita-cita besar membangun bangsa. Jangan Malu, teruslah maju, kalian adalah pahlawan negeri ini. Janganlah jual negeri ini dengan sedikit uang dan kenikmatan, sungguh itu tidak ada bedanya dengan orang Indonesia di jaman penjajahan yang menjual rakyatnya sendiri ke penjajah.

Itulah pahlawan, mereka memikirkan masa depan, mereka seringnya mengorbankan diri untuk kepentingan orang banyak. Apakah kita akan hidup saat ini saja, atau kita hendak hidup selamanya dengan menjadi pahlawan untuk generasi di masa depan? Itulah kebahagiaan yang hakiki, dimana yang tersenyum adalah orang banyak, dan bukan hanya diri sendiri.

Wallahu’alam Bishawab, Merdeka!!! …
[Taufik Sutanto, 17 Agustus 2009, edited Nov 2014]
*kepada seluruh Generasi Muda Indonesia [terutama para pelajar & mahasiswa], Ayo SemangKa!!!… :)

Leave a Reply