Perahu Kehidupan

Saya bukan ustad ilmu agama, bukan lulusan pesantren, bahkan madrasah-pun bukan. Tapi sebagai kepala keluarga tetap wajib berusaha membimbing keluarga. Walhasil sesekali setiap habis shalat Subuh jamaah, biasanya saya berdiskusi  atau mengarang cerita, terutama untuk anak-anak.

Suatu saat kami berdiskusi tentang peran manusia dalam kehidupan masyarakat. Saya menunjukkan gambar perahu Ferry besar ini ke anak-anak.

Perahu Kehidupan

Perahu Besar dan para Awaknya.

Sejalan kemudian saya menanyakan siapa orang terpenting di perahu tersebut. Tentu saja bukan pertanyaan sulit untuk anak diatas umur 7 tahun. “Nahkoda” (Ship’s captain) jawab mereka. Lalu saya lanjutkan pertanyaan saya, siapa lagi orang penting di perahu tersebut? Sekarang jawabannya mulai beragam, mulai dari juru masak, dokter, sampai teknisi.

 Tentu saja saya membenarkan semua jawaban mereka. Tapi saya ndak berhenti sampai disitu. Saya tanya lagi apakah pegawai yang bertugas membersihkan perahu, penting untuk perahu tetsebut? Mereka diam sejenak, lalu bawel dengan jawaban mereka masing-masing yang dinyatakan berbarengan bagai pasukan burung betet yang lapar di pagi hari.. :D…

Intinya mereka menjawab bahwa mereka juga penting. Tentu saja ini benar, tanpa staff yang membersihkan, mungkin sang kapten akan terpleset dan cidera, atau bahkan semua kru kapal akan sakit karena kapal yang kotor/jorok.

Pertanyaan saya selanjutnya sedikit berbeda, saya menanyakan…  Apakah orang terpenting di perahu tersebut bisa menjalankan tugasnya  dengan baik jika salah satu staff tidak bekerja?

Dahi mereka nampak berkerut dan mulai tidak suka dengan pertanyaan saya yang semakin “menjurus” :D …  Namun tentu saja pertanyaan tadi masih termasuk pertanyaan yang mudah sekali untuk dijawab, bahkan untuk anak-anak sekalipun.
Walau Nahkoda adalah pucuk pimpinan tertinggi, tapi tanpa sang juru masak, ia akan kelaparan di tengah samudera yang luas. Kalaupun ia bisa memasak, namun ia tidak akan bisa menjalankan perannya sebagai nahkoda bila ia disibukkan dengan hal lain.  Bahkan penumpang sekalipun memegang peran penting… tanpa adanya penumpang kapal, maka semua yang dilakukan oleh nahkoda, teknisi, dan seluruh staff kapal menjadi tidak bermakna sama sekali.
Perahu tadi adalah sebuah perumpamaan yang baik, pentingnya sikap saling menghormati dan menghargai terlepas dari besarnya gaji atau status jabatan.
Sejurus kemudian saya menanyakan pertanyaan Finale saya ke KruCils, “adakah orang yang tidak penting di perahu tersebut”?
Karena tergiring pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, sekarang mereka lebih berhati-hati dalam menjawab …. Setelah diskusi singkat saya pun merangkum pendapat mereka.

Orang yang tidak penting di perahu tersebut adalah mereka yang tidak memerankan perannya… Mereka yang diberi amanah, namun tidak menjalankan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Mereka yang terlalu sibuk dengan statusnya, namun bukan tanggung jawabnya. dan juga mereka yang tidak menghargai peran orang-orang disekitarnya.

… perahu adalah kehidupan… dan inilah pesan saya pagi itu ke Krucils …

Ayah dan Bunda bahkan tidak keberatan walau kalian misal jadi supir truk sampah… Karena mereka adalah orang-orang mulia yang dibutuhkan oleh masyarakat, tanpa mereka akan banyak sampah dan penyakit.  Tanpa buruh pabrik yang bekerja berdiri berjam-jam dengan upah yang kecil, kita tidak akan memakai pakaian yang kita pakai sekarang. Tanpa petani yang rela bekerja di bawah teriknya matahari, tidak akan ada nasi di piring kita.

Anakku, kalian boleh jadi apa saja… Ayah dan Bunda tidak menyuruh kalian untuk selalu menjadi juara. Tapi milikilah passion (mimpi/cita-cita), tidak hanya itu, jangan lupa determinasi yang kuat untuk mengejar impian tersebut. Selalu hargai kerja keras dan peran orang-orang di sekitar kita, tanpa orang lain kita bahkan tidak mampu untuk melakukan hal yang sederhana sekalipun.

Brisbane ~ 27Aug2016
Hari ini Hamzah masuk Final kompetisi nasional ICT di Ausie. Namun seperti biasa, pesan saya adalah… Have Fun!!!… ^_^ …

2 thoughts on “Perahu Kehidupan

Leave a Reply