Eureka! : Mengenal Lebih Jauh Kehidupan Seorang Ilmuwan

Ilmuwan (scientist) sering dikaitkan dengan pendidikan formal seperti sarjana (S1), atau pascasarjana  master(S2)/doktor-PhD(S3). Memiliki suatu gelar tidak membuat seseorang serta merta menjadi seorang ilmuwan. Namun biasanya seseorang dilatih menjadi seorang ilmuwan melalui pendidikan formal, terutama S3. Karena S1 lebih ditujukan untuk penanaman dasar fokus keahlian, S2 pendidikan profesional, lalu baru S3 melatih seseorang untuk benar-benar menjadi seorang peneliti/ilmuwan. Lalu dimana letak benang merahnya ? Suatu siang Nisrina (putri sulung kami) bertanya: ” Ayah, bisa ga Rina menjadi seorang doktor (PhD) dengan membuat sebuah cerita?” … Saya tertegun sejenak dihadapkan dengan sebuah pertanyaan lugu seorang anak kecil yang nampaknya sederhana, namun menurut saya tidak dapat dijawab tanpa perenungan mendalam. Saya-pun menjawab “Ya...”, yang kemudian tidak lama langsung  disambut Nisrina dengan senyum lugu diwajahnya dan sebuah pernyataan polosnya “kalau begitu Rina sudah jadi doktor dong Ayah, kan sudah bisa buat cerita“.

Tanggapan saya selanjutnya menjadi penjelasan penting tentang seperti apa seorang ilmuwan sesungguhnya. Saya katakan padanya: “Jika Rina bisa mengumpulkan semua atau minimal sebanyak-banyaknya cerita yang terkait dengan cerita yang Rina buat, lalu menjelaskan apa persamaan dan perbedaan cerita Rina dan cerita-cerita yang lain tadi, lalu menjelaskan apa uniknya cerita Rina dibandingkan cerita yang lain, lalu juga menjelaskan bahwa cerita Rina adalah kontribusi penting dan baru ke bidang sastra (literature), maka ya… Kamu layak mendapat gelar sebagai seorang doktor/PhD“. Seorang ilmuwan sejati akan selalu berusaha dengan determinasi dan passion yang tinggi untuk: memecahkan suatu masalah yang orang lain belum temukan solusinya dan-atau menambah hasanah/kekayaan intelektual suatu bidang ilmu tertentu. Seorang ilmuwan akan melakukan semua itu dengan kejujuran dan apresiasi yang tinggi kepada ilmuwan (Scholars) pendahulunya dengan meng-acknowledge (merujuk/menghargai) berbagai karya terkait pendahulunya. Hanya dengan atitude/akhlaq ilmuwan sejati seperti itulah maka ilmu pengetahuan akan terus senantiasa berkembang dengan baik untuk peradaban manusia yang lebih baik.

Walau kita sering mendengar berbagai nama ilmuwan terkenal dalam kehidupan sehari-hari, namun mayoritas kehidupan ilmuwan jauh dari ketenaran dan hingar-bingar seperti para artis atau bahkan para politikus. Seringnya (tidak selalu), mereka akan banyak menghabiskan waktu di laboratorium, perpustakaan, atau meja kerjanya tanpa banyak orang mengenal mereka atau apa yang mereka kerjakan. Tidak sedikit ilmuwan yang terpaksa mengorbankan waktu untuk bersosialisasi atau bahkan waktu untuk keluarga demi menyelesaikan penelitiannya. Hal ini sering ditemukan di negara-negara maju, sebut saja seperti Jepang, Korea, atau Amerika. Mengingat besarnya pengorbanan yang mereka lakukan, sebenarnya menurut saya tidak terlalu berlebihan jika mereka kita anggap bak pahlawan suatu negara. Bukankah seorang pahlawan adalah seseorang yang rela mengorbankan kepentingan pribadinya bagi orang banyak (negara)? Bayangkan negara maju tanpa para ilmuwannya…. Jepang, Korea, Amerika, dll tidak akan menjadi negara maju seperti sekarang jika tidak karena para profesor di universitas yang terus bekerja keras memecahkan berbagai masalah penting bahkan sebelum masalah itu muncul. Berbagai piranti Teknologi modern yang kita gunakan di kehidupan kita sehari-hari juga tidak akan pernah ada tanpa didahului pengorbanan mereka.

Lalu bagaimana dengan mahasiswa S1? Apakah mereka tidak boleh mulai meneliti & harus menunggu S3? Tentu saja tidak; di negara maju seperti Australia kebiasaan meniliti bahkan sudah ditanamkan semenjak mereka SD (kelas 3). Saya ingat benar ketika putri kami mendapat Pekerjaan Rumah meneliti tentang masalah lingkungan di belakang rumahnya. Ia diminta untuk meneliti permasalahan sederhana di belakang rumahnya, melakukan dokumentasi dan pendataan, mencoba mencari solusinya di internet, menulis laporan (report), lalu mempresentasikan hasilnya di kelas. Namun sepengetahuan saya, mahasiswa S1 di Indonesia tidak diharuskan melakukan penelitian di Skripsinya. S1 di cukup banyak negara biasanya dilakukan selama 3 tahun tanpa skripsi. Sebagian kecil lulusannya boleh menulis skripsi di suatu program yang biasanya disebut Honours. Lulusan S1 dengan Honours  dapat melanjutkan studi ke S3 tanpa harus melalui program Master. Karena di Indonesia hal ini tidak berlaku (untuk S3 harus S2 terlebih dahulu), maka seyogyanya menurut saya skripsi S1 semata-mata hanyalah suatu sarana latihan penulisan karya ilmiah yang baik. Namun sekali lagi, jika sanggup dan mau, maka tentu saja diperbolehkan melakukan suatu penelitian dan hasilnya dituangkan dalam skripsi.

Saya sendiri masih belum berani untuk mengikrarkan diri sebagai ilmuwan, lebih tepatnya saya baru belajar untuk menjadi ilmuwan. Program S3 yang dijalani saat inipun tertatih-tatih baru setengah jalan. Berbeda dengan ketika saya mengajar, saya belajar bahwa ketika melakukan penelitian kita harus memahami lebih jauh dari apa yang tertera di buku/jurnal. Seorang ilmuwan dituntut untuk dapat membaca apa yang tersirat, suatu makna implisit yang tak tertulis secara nyata di teks yang kita baca. Misal saja baru-baru ini saya mencoba membantu mahasiswa S3 lain dengan metode yang ia gunakan dalam penelitiannya. Tertulis di sumber literature, metode tersebut mensyaratkan dua parameter awal dengan nilai turunan yang berbeda tanda (+ & -). Sepertinya tidak terlalu masalah, apalagi fungsi tujuannya telah dibuktikan pasti konkaf (cembung ke atas). Sayangnya, tertulis juga ternyata metodenya ill-conditioned, artinya pemilihan parameter awal akan sangat berpengaruh terhadap hasil akhir. Belum lagi, setelah diteliti lebih jauh bahwa konkaf-nya fungsi tersebut tidak terlalu membantu, karena yang dibutuhkan user/pengguna adalah fungsi yang strictly-konkaf. Dari kasus sederhana tersebut, kami baru paham bahwa sebenarnya penulis (penemu model tersebut), secara tidak langsung mengatakan bahwa metode yang ia ajukan sebenarnya belum terlalu siap untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari (biasa disebut production level). Ia menuliskan secara halus lewat penjelasan teknis yang kalau tidak dipahami/diteliti dengan baik akan luput dari kajian.

Menjadi seorang peneliti/ilmuwan jika dilakukan dengan determinasi dan passion yang tinggi, cukup mengasyikkan. Bagaikan seorang gamer yang tertantang oleh sulitnya suatu level di game yang ia mainkan. Seorang peneliti biasanya juga tertantang untuk menyelesaikan masalah yang orang lain belum mampu untuk pecahkan, atau bahkan orang lain belum sadar bahwa masalah itu ada, atau menemukan suatu dimensi baru yang orang lain belum dapat melihatnya. Saat solusi ditemukan: “Eureka!!!..” persis seperti teriakan gembira Archimedes ketika ia menemukan solusi permasalahannya ketika ia di kamar mandi. Mungkin mirip juga dengan teriakan gembira para gamer ketika berhasil melewati suatu level yang sulit di game yang ia mainkan. Begitu pula seorang ilmuwan ketika sukses melakukan penelitiannya. Tentu saja , bak para gamer yang terkadang stress dengan permainannya. Para ilmuwan juga sering bisa merasa tertekan jika solusi penelitiannya belum juga ditemukan. Apalagi jika harus dibenturkan dengan kendala tambahan seperti waktu dan biaya. Terkadang setelah bertahun-tahun meneliti, tiba-tiba ada peneliti lain yang terlebih dahulu mempublikasikan solusinya. Dan masih banyak lagi seluk-beluk peneliti yang kalau dibahas semuanya tidak akan cukup dituliskan dalam sebuah novel berseri, namun terkadang sekilas terlukiskan di beberapa status di sosial media :) .

Ingin menjadi ilmuwan ? mungkin ragu ya? Kalau saya rubah pertanyaannya: ingin mendapat keutamaan amalan dengan ilmu dan menjadi agen perubahan kemanusiaan? … :) … mari menggapai keutamaan kaum cendikia: ilmuwan.
“… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. al-Mujadilah: 11).

Ilmuwan sebagai agen perubahan.

Ilmuwan sebagai agen perubahan.

4 thoughts on “Eureka! : Mengenal Lebih Jauh Kehidupan Seorang Ilmuwan

  1. jalan menjadi peneliti itu sungguh berat ya pak, sewaktu SMA, saya pernah tes potensi/IQ bahwa IQ saya dibawah standar, bahkan saya direkomendasikan masuk kelas IPS (hal ini saya masih heran sebenarnya kenapa IPS disudutkan dengan IQ rendah dan buruk, tp intinya bukan ini yang akan saya bicarakan), ketika kuliah saya berusaha keras untuk melakukan penelitian yang memang seharus ideal sebagaimana penelitian harus dilakukan, sebenernya mengingat kemampuan IQ yang erat hubungannya dengan problem solving dipenelitian itu sendiri IQ tampaknya mustahil, tp karena passion yang menjadi kendaraan saya untuk melakukan itu saya dapat mempublikasikan jurnal internasional dari penelitian saya ketika skripsi, ya jurnal, bukan proceeding, walaupun ini hanya versi extended dari proceeding, tp saya juga masih terheran-heran, mungkin reviewernya sedang dalam keadaan senang dan gembira atau sedang kurang enak badan saat me-review paper saya dengan grammar dan typografi yang bagaikan kamar berantakan sehingga review paper saya hasilnya memiliki tingkat keberuntungan yang tinggi, dan memang pada saat penelitian saya mengorbankan hampir 2 semester jadi saya harus menunda kuliah saya, yang seharusnya selesai 4 tahun menjadi 5 tahun, mungkin hal itu yang membuat saya ‘logis’.
    karena berusaha membuat ‘logis’ itulah justru saya sekarang saya diragukan dengan kemampuan IQ saya, apakah saya mampu menjadi peneliti dan tetap dijalan menuju menjadi seorang peneliti dengan kemampuan saya sekarang ini?
    untuk membuat satu penelitian dengan kontribusi yang sedikit saja saya harus memakan waktu sekitar 8-9 bulan, benar sekali pengalaman Pak Taufik mengenai mempelajari makna implisit, saya menemukan paper yang metodenya hanya dideskripsikan, tidak ada metode patokan (memang metode tersebut adalah baru peneliti tersebut ajukan, tidak ada lagi metode lain) ditambah saya tidak mendapat resource (source code dll) dari peneliti, karena email dari peneliti tidak dibalas2, akhirnya saya mencoba melakukan construct kode ulang dengan hasil pemaknaan dari saya terhadap deskripsi metode tersebut, ini hal yang mengerikan krn bisa jadi pemaknaan saya meleset atau pengaruhnya besar terhadap hasil akhir, dengan kata lain saya hanya melakukan judge tanpa bukti terhadap hasil penelitian sebelumnya. saya sangat hawatir karena kemampuan IQ saya yang dibawah standar ini membuat progress penelitian saya sangat lambat, akhirnya tidak memasuki standar sebagai seorang peneliti, karena kehawatiran tersebut skrg saya malah melipir menjadi praktisi IT yang lingkupnya industrial bukan research, kemudian saya juga menjadi tertinggal dengan teman2 saya yang sudah s2 atau terjun ke dunia akademik, bagaimana saya mensikapi ini Pak?menyerah saja atau lanjutkan?

    • Halo Mas Gia,
      Turut prihatin dengan pengalamannya saat SMA, tapi sangat senang dengan pencapaiannya menulis di JI !… Congratulations!!!… ga banyak mahasiswa bahkan dosen di Indonesia dapat melakukan apa yang Mas Gia lakukan. Men-“Judge” seseorang memang memiliki dampak bahaya yang luar biasa dan berkepanjangan bagi seseorang. Kalau saya diijinkan, saya ingin menyarankan lupakan (acuhkan) saja mereka yang tidak percaya potensi/kemampuan yang kita miliki. Kita tunjukkan pada mereka, bahwa mereka salah, dengan cara menunjukkan bukti… ya, bukti seperti JI mas Gia. What a ‘sweet revenge’ isn’t ? … ;)

      Ga usah hawatir Mas, begitu di accept reviewer, berarti sudah menjadi tanggung jawab reviewer bahwa paper yang ditulis berkualitas dan pantas untuk dipublikasi. Please stop berfikir kalau IQ mas dibawah standar …. ngga banget deh mas …. O iya, wajar kok butuh waktu yang lama untuk berkontribusi ke suatu bidang ilmu. Bahkan seorang tokoh ternama sekalipun butuh bertahun-tahun.

      Apakah mas Gia saat ini senang/enjoy dengan menjadi Praktisi? Kalau iya, gapapa lanjutkan saja. Belum tentu terjun menjadi akademisi/ilmuwan itu lebih baik. Tapi kalau fikiran Mas Gia “sulit untuk pindah ke lain hati” atau dengan kata lain cinta mati dengan dunia akademis atau passion Mas Gia adalah menjadi seorang akademisi/peniliti, maka silahkan gunakan api yang membara dalam jiwa mas Gia tersebut untuk menjadi seorang akademisi/peneliti yang mumpuni. Apapun pilihannya, jalani dengan sepenuh hati mas. Jangan ragu-ragu. Semoga semakin sukses … (Y) .. ^_^

    • Setuju, hal tsb memang paling berat, bahkan terkadang lebih berat dari penelitiannya itu sendiri … ^_^ … #CurCol … :D

Leave a Reply