Sepatu Butut Nisrina

Sebagai orang tua sudah seharusnya memperlakukan semua anak²nya dengan adil (sama). Sayangnya saya seorang Ayah yang “payah”, sulit rasanya untuk tidak mengaggumi dan memperlakukan Nisrina (putri pertama kami) lebih dari adik²nya. Tidak hanya sekedar pintar, suka membantu orang tua, rajin shalat, pandai mengaji dan bermain piano; lebih dari itu ia memiliki hati yang sangat istimewa dan kedewasaan yang luar biasa.

Saat pergi bersama berbelanja ke pusat pertokoan, anak² kecil lain biasanya akan meminta apa saja barang yang menarik yang dilihatnya. Namun Nisrina hanya melihat namun tak pernah meminta. Walau ditawarkan, ia akan hampir selalu menolak. Ia memikirkan bahwa barang² tersebut menarik, namun tidak akan terlalu bermanfaat, atau overpriced, atau alasan lain yang tak lazim difikirkan anak seumurnya. Itulah mengapa saya tak pernah menunda dan menolak jika suatu saat ia menginginkan sesuatu, walau sangat mahal sekalipun, biasanya saya akan belikan. Karena tidak seperti adik²nya atau anak kecil lain pada umumnya, saat ia meminta maka ia sudah memikirkan benar kebermanfaatan barang yang dimintanya tersebut.

Lagi² Ayahnya payah, ternyata sudah cukup lama sepatunya rusak, namun saya tidak mengetahuinya. Namun ia tak pernah berkata sepatah katapun. Anak² lain pada umumnya mungkin akan malu dengan teman²nya dan wajarnya akan meminta dibelikan sepatu baru. Nisrina tidak malu sama sekali kalaupun harus memakai sepatu butut, baginya ia yang memakai, dan ia tidak masalah memakai sepatu tersebut. Ia tidak merugikan orang lain dengan memakai sepatu tersebut. Padahal justru Ayahnya yang membenci dirinya sendiri karena kurang perhatian terhadap anaknya yang bagaikan bidadari tersebut.

Akhirnya beberapa waktu yang lalu kami membelikan sepatu baru untuknya, itupun karena saya paksa. Ajaibnya ia malah mengambil sepatu termurah seharga $10. Saat ditawarkan sepatu yang jauh lebih mahal, tidak ada nampak sama sekali diwajahnya rasa ingin memiliki. Ya, ia tidak hanya dewasa dan berhati tulus, namun juga penuh dengan kesederhanaan.

Tak pernah terfikir ia mewarisi sifat Ayahnya, seingat saya itulah sifat² istimewa Bundanya yang menurun dengan baik ke Nisrina. Untuk yang membaca tulisan ini dan belum menikah, semoga menjadi referensi pentingnya mencari pasangan hidup yang memiliki hati yang indah, dewasa, dan penuh dengan kesederhanaan.

Kalau teringat nikmat memiliki seorang puteri yang luar biasa sepertinya, tak terasa air mata menetes … sungguh kami sangat bersyukur. Semoga ia bisa menemukan lingkungan yang baik untuk ia tumbuh dewasa nanti, menemukan teman² yang terus menjaga keindahan hatinya, dan kelak pasangan hidup yang mampu membimbingnya bahkan menjadi insan yang lebih baik lagi. Aamiin.

[Over Australia’s Cloud, 14-10-2014]

Leave a Reply