Sungai Indah di Negeri yang Megah

Teringat sebuah cerita teman semasa SMU [Firman apa kabar?], sebuah cerita indah yang sulit dilupakan. Merupakan nasehat dia untuk kami semua saat itu, yang sampai sekarang berusaha untuk terus menjalani maknanya.

Suatu ketika di suatu negeri yang sangat aman, makmur, dan tentram [pastinya bukan Indonesia :p] ,… tersebutlah sebuah sungai yang sangat indah membelah negeri tersebut. Keindahan sungai tersebut tersiar tidak hanya dipelosok negeri namun juga sampai ke berbagai penjuru dunia.

Setiap hari, rakyatnya senantiasa bermain dan menggunakan airnya untuk kehidupan sehari-hari. Setiap saat ada saja terlihat mulai dari anak-anak, kaum muda hingga tua bermain, bersenda gurau di sungai yang jernih airnya lagi indah lingkungan disekitarnya tersebut. Bahkan tidak sedikit yang meminum airnya yang dingin dan sangat menyegarkan.

Namun suatu ketika sang raja kerajaan tersebut melarang rakyatnya meminum air sungai, dikarenakan dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan rakyatnya. Syukur, rakyatnya mematuhi titah sang raja. Karena perintahnya adalah untuk “tidak meminum”, maka rakyatpun masih bermain di sungai tersebut, menggunakan airnya, namun tidak meminumnya.

Sungaipun semakin tercemar, kemudian sang raja memerintahkan rakyatnya untuk sama sekali tidak masuk kedalam sungai. Rakyatnya pun melakukan persis apa yang diperintahkan, mereka hanya bermain-main di pinggiran sungai yang indah, tanpa sama sekali turun ke sungai untuk menggunakan airnya.

Sampai suatu ketika sang raja berkata “jangan kau dekati sungai itu”, pada saat itulah maka rakyatnya tidak nampak disekitar sungai tersebut. Jangankan untuk meminumnya, bahkan untuk bermain di sekitarnyapun tidak.

Begitu pulalah ketika 4JJ1 berfirman dalam surat Al Israa ayat 32:

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk“.

Ketika 4JJ1 memerintahkan untuk kita menjauhinya maka jangan sampai kita dekat-dekat dengannya. Tidak untuk bermain di sekitar sungai itu, apalagi meminum/menggunakan airnya. Notes ini saya tulis atas keprihatinan saya melihat TV, dijalan-jalan, dan beberapa status di FB. sudah terlalu banyak muda-mudi yang belum meresmikan [menghalalkan] hubungannya, tapi bertindak seolah-olah pasangan suami istri. Mereka dengan sedemikian mesra dan santainya menyatakan bahwa mereka telah bermain-main di sungai yang telah dilarang untuk didekati.

Tidakkah titah “Sang Raja” tersebut sampai ke kalian wahai hambaNYA? Notes ini saya tulis agar kita senantiasa saling mengingatkan dalam kebenaran, kebaikan, serta kesabaran, dan bukan untuk maksud jahat apapun.

Semoga dapat diterima dengan lapang hati. Rindu rasanya, Indonesia menemukan kembali jati dirinya yang telah terampas oleh sebagian budaya-budaya yang mengotori hati dan fikiran kita.

Wallahu’alam Bishawab [Taufik Sutanto: 23Nov2009, di kantor R.ELC].

Leave a Reply